Alpian (Beot), Pangeran Anom: Tokoh Pendidikan dan Budaya yang Konsisten Menjaga Warisan Robo-Robo Mempawah
- account_circle admin
- calendar_month Kam, 13 Agu 2026
- visibility 20
- comment 0 komentar

Alpian (Beot), Pangeran Anom: Tokoh Pendidikan dan Budaya yang Konsisten Menjaga Warisan Robo-Robo Mempawah
KALBARFAKTA.Com —MEMPAWAH, KALIMANTAN BARAT — Di tengah arus perubahan zaman yang semakin cepat, keberadaan tokoh yang konsisten menjaga pendidikan, adat, dan kebudayaan menjadi bagian penting dalam mempertahankan jati diri masyarakat. Salah satu sosok yang mendapat perhatian di Kabupaten Mempawah adalah Alpian, yang akrab disapa Beot, anggota DPRD Kabupaten Mempawah sekaligus tokoh pendidikan dan budaya yang menyandang gelar Pangeran Anom.
Alpian tidak hanya menjalankan perannya sebagai legislator. Di tengah masyarakat, ia dikenal memiliki perhatian terhadap perkembangan generasi muda, khususnya dalam mendorong anak-anak muda Dayak agar terus berkembang melalui pendidikan, memiliki prestasi, serta tetap memahami dan menghormati akar adat dan budayanya.
Kepedulian tersebut antara lain tercermin dari dukungannya terhadap berbagai kegiatan kebudayaan dan tradisi masyarakat. Salah satunya adalah Robo-Robo di lingkungan Kerajaan Amantubillah Mempawah, sebuah tradisi tahunan yang memiliki nilai sejarah, adat, budaya, dan kearifan lokal bagi masyarakat Mempawah.
Pendidikan dan Budaya Harus Berjalan Bersama
Bagi Alpian, adat dan budaya bukan sekadar seremoni tahunan. Tradisi merupakan bagian dari identitas masyarakat yang harus dirawat, diwariskan, dan dikenalkan kepada generasi muda.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan dan modernisasi tidak harus membuat generasi muda kehilangan hubungan dengan akar budayanya. Justru pendidikan dapat menjadi sarana untuk memperkuat karakter sekaligus menjaga nilai-nilai budaya.
Alpian melihat pendidikan dan kebudayaan sebagai dua kekuatan yang saling melengkapi. Pendidikan membangun kualitas sumber daya manusia, sementara budaya memberikan karakter, identitas, dan nilai kehidupan.
Kepeduliannya terhadap generasi muda Dayak menjadi salah satu bentuk perhatian terhadap pentingnya menciptakan generasi yang berani maju, berpendidikan, berprestasi, sekaligus tetap menghormati adat dan budaya leluhur.
Di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi, generasi muda membutuhkan figur yang tidak hanya memberikan nasihat, tetapi juga hadir memberikan dukungan moral serta membuka ruang bagi mereka untuk berkembang.
Robo-Robo dan Tanggung Jawab Menjaga Identitas
Robo-Robo di Kerajaan Amantubillah Mempawah bukan sekadar agenda budaya tahunan. Tradisi tersebut menjadi ruang pertemuan antara sejarah, adat, masyarakat, dan generasi penerus.
Karena itu, menjaga Robo-Robo bukan hanya tanggung jawab pemangku adat atau pelaku seni. Pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, generasi muda, serta seluruh elemen masyarakat.
Dalam konteks tersebut, sosok Alpian (Beot) menjadi relevan sebagai figur yang berada di antara ruang pemerintahan, pendidikan, masyarakat, dan kebudayaan.
Sebagai anggota DPRD sekaligus tokoh yang memiliki perhatian terhadap pendidikan dan budaya, kepeduliannya terhadap kegiatan adat menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak semestinya hanya berbicara mengenai infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan juga harus berbicara tentang manusia, karakter, sejarah, dan keberlanjutan identitas budaya.
Sosok yang Dekat dengan Generasi Muda
Di mata masyarakat dan generasi muda yang memperoleh dukungannya, Alpian tidak hanya dipandang sebagai seorang pejabat atau tokoh politik. Ia juga dikenal sebagai sosok yang memberikan perhatian dan ruang kepada anak-anak muda untuk berkembang.
Sikap tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan generasi muda terhadap figur yang dapat menjadi teladan, memberikan motivasi, sekaligus mendukung mereka dalam mengejar pendidikan dan prestasi.
Pesan yang dibawa sederhana, tetapi memiliki makna yang kuat:
“Generasi muda harus maju. Pendidikan harus diperjuangkan. Tetapi adat dan budaya jangan pernah ditinggalkan.”»
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa kemajuan tidak harus berlawanan dengan tradisi. Sebaliknya, pendidikan dan kebudayaan dapat menjadi dua fondasi penting dalam membentuk generasi yang kuat dan berkarakter.
Sebuah daerah yang besar bukan hanya daerah yang memiliki pembangunan yang maju, tetapi juga daerah yang mampu menjaga sejarah, menghormati leluhur, merawat budaya, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Alpian (Beot), Pangeran Anom, menjadi salah satu figur yang menunjukkan bahwa menjadi modern tidak berarti melupakan akar budaya. Justru dari akar sejarah dan budaya itulah generasi muda dapat tumbuh kuat, berkarakter, dan memiliki jati diri.
Robo-Robo tetap hidup. Budaya tetap dijaga. Generasi muda terus berkembang.
Itulah warisan yang harus diperjuangkan bersama.
Tim : liputan khusus
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar