Dg. Rizki Ilhamsyah Meneguhkan Literasi sebagai Pilar Pelestarian Budaya Melayu melalui Karya Sastra Cinta Berdarah
- account_circle admin
- calendar_month Sab, 11 Jul 2026
- visibility 688
- comment 0 komentar

Dg. Rizki Ilhamsyah Meneguhkan Literasi sebagai Pilar Pelestarian Budaya Melayu melalui Karya Sastra Cinta Berdarah
KALBARFAKTA.Com —Mempawah, 11 Juli 2026 , Kalimantan Barat — Dalam lintasan sejarah peradaban, kebudayaan merupakan fondasi yang membentuk identitas suatu bangsa. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan arus globalisasi yang semakin cepat telah menghadirkan berbagai kemajuan, namun pada saat yang sama juga melahirkan tantangan terhadap keberlangsungan nilai-nilai budaya lokal. Di tengah perubahan tersebut, upaya mendokumentasikan, merawat, dan mentransformasikan warisan budaya menjadi sebuah keniscayaan agar jati diri bangsa tidak kehilangan akar sejarahnya.
Berangkat dari kesadaran intelektual itulah, budayawan sekaligus penulis asal Mempawah, Kalimantan Barat, Dg. Rizki Ilhamsyah, menghadirkan karya sastra berjudul Cinta Berdarah. Buku ini tidak hanya lahir sebagai karya literasi, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kebudayaan dalam menjaga eksistensi nilai-nilai Melayu di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung.
Bagi Dg. Rizki Ilhamsyah, sastra merupakan medium yang memiliki kekuatan untuk menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Melalui bahasa yang estetis dan narasi yang reflektif, sastra mampu merekam perjalanan sejarah, menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga identitas budaya. Oleh karena itu, Cinta Berdarah tidak hanya menawarkan pengalaman membaca yang emosional, tetapi juga mengajak pembaca memasuki ruang kontemplasi tentang makna sejarah, adat istiadat, kehormatan, pengorbanan, cinta, serta nilai-nilai luhur yang hidup dalam masyarakat Melayu.
Dalam perspektif akademik, literasi memiliki fungsi yang jauh melampaui aktivitas membaca dan menulis. Literasi merupakan instrumen pembangunan peradaban yang memungkinkan suatu masyarakat mendokumentasikan pengetahuan, mereproduksi nilai, serta mentransmisikan kebudayaan kepada generasi berikutnya. Bangsa-bangsa besar di dunia mampu mempertahankan identitasnya karena memiliki tradisi literasi yang kuat, sehingga sejarah dan kebudayaannya terdokumentasi dengan baik dan dapat diwariskan lintas generasi.
Kesadaran inilah yang menjadi landasan berpikir Dg. Rizki Ilhamsyah dalam setiap karya yang dihasilkannya. Baginya, budaya Melayu tidak cukup dipahami sebagai simbol seremonial atau tradisi yang hadir pada momentum tertentu, melainkan sebagai sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, alam, dan lingkungan sosialnya. Nilai-nilai tersebut perlu terus dikaji, ditulis, dan disebarluaskan agar tetap relevan menghadapi tantangan zaman.
Melalui Cinta Berdarah, Dg. Rizki Ilhamsyah menyajikan narasi yang memadukan unsur sastra dengan refleksi sosial dan budaya. Pembaca diajak memahami bahwa perjalanan sebuah masyarakat tidak pernah terlepas dari dinamika sejarah, konflik, cinta, pengorbanan, dan perjuangan mempertahankan martabat. Di balik alur cerita yang kuat, tersimpan pesan moral mengenai pentingnya menjaga identitas budaya sebagai fondasi pembangunan karakter bangsa.
Sebagai budayawan, Dg. Rizki Ilhamsyah meyakini bahwa pelestarian budaya memerlukan pendekatan yang komprehensif. Dokumentasi, penelitian, publikasi ilmiah, karya sastra, pendidikan, hingga pemberdayaan komunitas merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya. Sastra menjadi salah satu instrumen yang efektif karena mampu menjangkau dimensi intelektual sekaligus emosional pembaca.
«”Literasi bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis. Literasi adalah ikhtiar intelektual untuk merawat ingatan kolektif sebuah bangsa. Ketika sejarah, adat, dan kebudayaan terdokumentasi melalui karya tulis, sesungguhnya kita sedang membangun jembatan peradaban yang akan menghubungkan generasi masa kini dengan generasi yang akan datang,” ujar Dg. Rizki Ilhamsyah.»
Lebih lanjut, ia menilai bahwa masyarakat Melayu memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, mulai dari adat istiadat, bahasa, sastra lisan, hukum adat, hingga filosofi kehidupan yang mengedepankan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Kekayaan tersebut merupakan modal sosial sekaligus modal intelektual yang harus dijaga melalui kolaborasi antara budayawan, akademisi, pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat luas.
Kehadiran Cinta Berdarah diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam memperkaya khazanah sastra Indonesia, sekaligus memperluas ruang diskusi akademik mengenai kebudayaan Melayu dari perspektif sejarah, sosiologi, antropologi, dan humaniora. Buku ini juga diharapkan mampu mendorong lahirnya berbagai penelitian, kajian ilmiah, serta karya-karya literasi baru yang mengangkat kekayaan budaya Nusantara sebagai sumber inspirasi pembangunan bangsa.
Lebih dari sebuah novel, Cinta Berdarah merupakan manifestasi komitmen seorang budayawan dalam menjaga memori kolektif masyarakat Melayu. Di dalamnya terkandung pesan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari capaian ekonomi dan teknologi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga identitas, menghormati sejarah, serta melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, penguatan budaya literasi menjadi salah satu strategi penting dalam membangun masyarakat yang berkarakter, berpengetahuan, dan berkeadaban. Literasi bukan sekadar alat pendidikan, melainkan fondasi bagi lahirnya masyarakat yang mampu berpikir kritis, menghargai keberagaman, serta menjaga kesinambungan nilai-nilai budaya sebagai bagian dari identitas nasional.
Melalui dedikasi yang konsisten di bidang literasi dan kebudayaan, Dg. Rizki Ilhamsyah menegaskan bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama. Dengan semangat kolaborasi, diharapkan warisan budaya Melayu tidak hanya bertahan sebagai peninggalan sejarah, tetapi terus tumbuh sebagai sumber inspirasi bagi pembangunan karakter bangsa dan penguatan peradaban Indonesia di masa depan.
Kehadiran Cinta Berdarah menjadi penanda bahwa karya sastra masih memiliki posisi yang sangat penting dalam membangun kesadaran sejarah, memperkuat identitas budaya, dan meneguhkan literasi sebagai salah satu pilar utama pembangunan peradaban. Dari Mempawah, sebuah pesan kebudayaan disampaikan kepada Indonesia: bahwa menjaga budaya berarti menjaga masa depan bangsa.
Tim Liputan
Humas DPP Laskar Pemuda Melayu (LPM) Kalimantan Barat
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar